Beranda / Politics / Unjuk Rasa Berdarah, Balai Kota Dibakar, Penjarahan, dan 1.800 Orang Ditangkap: Apa yang Terjadi di Prancis?

Unjuk Rasa Berdarah, Balai Kota Dibakar, Penjarahan, dan 1.800 Orang Ditangkap: Apa yang Terjadi di Prancis?

Prancis

BerandaNews.com, Paris – Demonstrasi yang bearakhir dengan kerusuhan dan penjarahan pecah di berbagai penjuru Prancis, menyebabkan penangkapan ratusan hingga ribuan demonstran.

Demonstrari yang berakhir dengan penjarahan, serta perusakan di sejumlah kota dalam aksi protes dilaporkan dipicu oleh tingginya inflasi dan biaya hidup.

Pada hari Minggu, Prancis terbangun dengan pemandangan jalanan yang rusak parah usai bentrokan antara polisi dan demonstran di tengah aksi protes menuntut penurunan biaya hidup, demikian dilaporkan kantor berita AFP.

Kerusuhan ini terjadi setelah demonstrasi mahasiswa berlangsung selama beberapa terkait berbagai isu, termasuk kondisi sekolah dan kekurangan guru.

Apa yang sedang terjadi di Prancis?

Demonstrasi pada hari Sabtu di Prancis dilaporkan digerakkan oleh gerakan Yellow Vest (Rompi Kuning) untuk memprotes tingginya inflasi dan melonjaknya biaya hidup.

“Kami muak bekerja keras demi upah yang sangat kecil sementara uang sewa kami terus naik,” ujar seorang guru, Regine Monfroid, kepada AFP.

Terdapat tuntutan dan isu-isu lainnya.

Kerusuhan dan perusakan skala besar terjadi di Paris dan kota-kota lainnya, termasuk Bordeaux, Strasbourg, Nice, dan Marseille, membuat banyak toko menjadi sasaran penyerangan.

Kota Limoges kehilangan bangunan balai kota bersejarah dari abad ke-19 akibat kebakaran. Prefek setempat, Maurice Barate, menyampaikan kepada stasiun televisi LCI bahwa “segerombolan massa liar” telah membakarnya, tambah laporan tersebut.

Di Paris, para wisatawan terlihat berlarian membawa koper di jalan-jalan yang dipenuhi gas air mata dan para demonstran pada hari Sabtu.

1.800 Orang Ditangkap di Prancis

Menurut Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, sebanyak 1.800 individu telah ditangkap.

Sekitar “1.800 orang telah ditangkap dan saat ini penyelidikan sedang berjalan untuk mengidentifikasi para pelaku tindakan ini agar mereka dapat diadili”, ungkap Nunez melalui sebuah unggahan di platform X pada hari Minggu.

Aksi kekerasan ini terjadi di tengah unjuk rasa biaya hidup berskala nasional yang menurut Kementerian Dalam Negeri diikuti oleh 550.000 orang.

Sementara itu, serikat buruh CGT mengklaim jumlah partisipan mencapai 800.000 orang, sebagaimana dilaporkan AFP.

Sekitar 1.500 Toko Dirusak dan Dijarah

Hampir 1.500 toko mengalami kerusakan dalam gelombang protes di Prancis pada akhir pekan lalu, dilaporkan AFP dengan mengutip pimpinan kelompok perwakilan sektor tersebut.

Pernyataan Para Pemimpin Prancis

Di tengah kekacauan yang meluas, Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menegaskan di platform X bahwa “tidak ada hal yang dapat membenarkan” penyerangan terhadap aparat penegak hukum, perusakan bangunan publik, dan penjarahan tempat usaha.

“Menyerang pasukan penegak hukum kami, menargetkan lembaga-lembaga kami, merusak bangunan publik, menerobos kantor prefektur atau balai kota, menjarah tempat usaha: tidak ada hal yang dapat membenarkannya,” tegas pemimpin tersebut.

“Menyusul peristiwa 17 Oktober ini, yang di beberapa kota berlanjut hingga sangat larut, saya mengucapkan terima kasih yang mendalam dan memberikan dukungan penuh saya kepada para petugas polisi, gendarmeri, dan pemadam kebakaran yang, di seluruh Prancis, bertugas di bawah kondisi ekstrem,” tambah unggahan tersebut.

Sang menteri menyalahkan kelompok far-left (kiri jauh) atas kekerasan , “Sejak tengah hari—di Marseille sejak pagi hari—tindakan brutal telah dilakukan oleh beberapa ribu individu kelompok far-left yang bertekad menargetkan bangunan publik kami dan mengonfrontasi pasukan penegak hukum kami. Belakangan, mereka bergabung dengan kelompok kriminal yang menjarah dan merusak banyak tempat usaha di beberapa kota di Prancis: Paris, Marseille, Lyon, Bordeaux, Rennes, Strasbourg, Grenoble, Nice, Limoges, … dan banyak lainnya.”

“Pada tahap ini, lebih dari 500 petugas polisi, gendarmeri, dan pemadam kebakaran mengalami luka-luka dalam adegan kekerasan ini. Jumlah korban cedera ini sayangnya masih bersifat sementara. Kerusakan material sangat besar, terutama bagi beberapa ratus pedagang,” Nunez menekankan.

“Republik tidak akan tunduk sedikit pun kepada mereka yang berusaha memaksakan kekacauan dan kekerasan,” tegas Nunez.

Menurut AFP, Wakil Wali Kota Paris, Lamia El Aaraje, menyatakan bahwa ibu kota mengalami “tingkat kekerasan yang saya yakini belum pernah kita lihat sebelumnya.”

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengunggah di platform X pada hari Sabtu, “Tidak ada tempat untuk kekerasan di Republik kita.”

“Mereka yang telah merusak, menyerang kantor-kantor prefektur serta tempat usaha, bahkan menjarah balai kota kita, akan diproses hukum dan dihukum. Kepada pasukan penegak hukum, sang penjamin hak untuk berdemonstrasi, saya menyampaikan dukungan dari Bangsa,” catatnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *