BerandaNews.com, Jakarta – Transportasi publik Jakarta menempati peringkat ke-15 dunia, kedua di Asia Tenggara, dan ketujuh di Asia berdasarkan survei Time Out 2026. Sebanyak 79,2 persen responden memberikan penilaian positif terhadap layanan transportasi publik di ibu kota.
Capaian tersebut didukung integrasi berbagai moda transportasi, mulai dari MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, hingga Mikrotrans. Ke depan, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen memperluas konektivitas hingga wilayah penyangga untuk memudahkan mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi kemacetan.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina mengapresiasi peningkatan konektivitas transportasi publik di Jakarta. Menurutnya, integrasi antarmoda perlu terus diperkuat guna meningkatkan kenyamanan perjalanan sekaligus mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
“Kalau jamnya untuk sekarang sih sudah oke. Maksudnya, terutama ketepatan waktu sudah oke,” ujarnya, Senin (26/10).
Meski demikian, Wa Ode menilai, peningkatan kapasitas angkut dan konektivitas antarmoda tetap perlu menjadi perhatian agar layanan transportasi publik mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Secara khusus, ia mendorong penambahan jumlah gerbong LRT Jakarta untuk meningkatkan kapasitas angkut penumpang seiring dengan pengembangan jaringan transportasi publik di ibu kota.
“Kalau bisa, gerbongnya ditambah. Sekarang baru dua, kalau bisa tiga,” katanya.
Selain meningkatkan kapasitas angkut, Wa Ode menekankan pentingnya memperkuat konektivitas LRT dengan moda transportasi lain, termasuk angkutan pengumpan. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat berpindah dari satu moda ke moda lainnya dengan lebih mudah dan nyaman.
Ia berharap, penguatan integrasi dan peningkatan kapasitas transportasi publik dapat menarik lebih banyak masyarakat untuk menggunakan angkutan umum dalam aktivitas sehari-hari.
“Supaya makin banyak orang yang terbawa masuk ke transportasi umum,” tandasnya.









