BerandaNews.com, Jakarta – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah menyusun mitigasi bencana banjir saat puncak musim penghujan mendatang. Skenario terburuknya, termasuk menyiapkan lokasi pengungsian bagi warga bila terjadi hujan deras dalam waktu lama yang dibarengi air kiriman dari hulu sungai dan kondisi air laut tengah pasang.
Kepala Satuan Pelaksana (Satlak) BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat mengatakan, puncak musim penghujan diperkirakan terjadi pada Februari 2027 mendatang. Sebagai langkah mitigasi, Pemprov DKI Jakarta telah berkordinasi dengan instansi terkait, seperti TNI Kepolisian dan juga Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) RI.
Baca Juga: Gubernur Pramono Izinkan Liga Aspal Digelar di Jakarta
“Termasuk koordinasi lintas sektor di jajaran pemerintah daerah telah dilakukan sebagai antisipasi situasi bencana saat puncak musim penghujan,” katanya, Jumat (6/11).
Dijelaskan Maruli, pihaknya memperkirakan puncak musim penghujan kali ini terjadi pada bulan Februari 2027 mendatang. Diperkirakan, curah hujan akan turun sangat tinggi dan cenderung ekstrem dalam waktu lama sehingga potensial memicu genangan hingga banjir.
Berdasar hasil pemetaan yang telah dilakukan jajarannya, Maruli mengaku telah mengidentifikasi sebanyak 200 RW se-DKI Jakarta yang tergolong rawan terjadi genangan hingga banjir. Lokasi itu tersebar di sejumlah kawasan langganan terjadi genangan seperti seperti, Cawang, Cililitan, Kampung Melayu dan Rawa Buaya.
Untuk mengantisipasi dan meminimalisir potensi bencana, Maruli mengaku Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung telah memerintahkan seluruh jajaran untuk melakukan mitigasi, mulai dari melakukan sosialisasi, pembenahan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) hingga pengurasan saluran. Lalu, jajaran camat dan lurah juga telah diperintahkan membantu pelaksanaan pembersihan saluran dan bersih-bersih di wilayah masing-masing.
Kemudian, seluruh infrastruktur terkait penanganan bencana seperti perahu karet, tenda pengungsian, toilet mobile, penerangan dan tenda posko lengkap dengan peralatannya juga telah disiapkan. Termasuk disaster early warning system (EWS) diaktifkan sebagai pemberitahuan kepada warga selain melalui SMS blast dan tv digital, setelah menerima informasi dari BMKG bila terjadi cuaca ekstrem berpotensi memicu bencana.
Berbagai peralatan pendukung pun nantinya akan segera disiapkan mendekat ke lokasi begitu menerima informasi potensi bencana sebelum terjadi banjir. Selain itu, Maruli menegaskan petugas gabungan juga akan segera disiagakan di lokasi rawan begitu ada peringatan dini.
“Sebanyak 403 lokasi pengungsian sudah kami siagakan. Mereka juga sudah berkoordinasi secara teknis operasional di lapangan,” tandasnya.










