BerandaNews.com, Jakarta – Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai destinasi investasi jangka panjang bagi investor global di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang,
Pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga di atas 5%, realisasi investasi nasional yang terus meningkat, serta fokus pembangunan pada sektor-sektor strategis menjadi fondasi yang memperkuat kepercayaan investor global terhadap prospek jangka panjang Indonesia.
Kepercayaan tersebut diwujudkan melalui aliran investasi jangka panjang ke Indonesia. Memasuki tahun kelima operasionalnya, Indonesia Investment Authority (INA), sovereign wealth fund Indonesia, bersama para mitra investor telah menyalurkan investasi sebesar sekitar Rp74,5 triliun (sekitar USD4,7 miliar)*. Penyaluran investasi INA sendiri mencapai Rp33,3 triliun (sekitar USD2,1 miliar). Pada saat yang sama, INA berkontribusi dalam menarik penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia, dengan realisasi kumulatif PMA mencapai Rp41,2 triliun (sekitar USD2,6 miliar).
Pada periode yang sama, total Assets Under Management (AUM) INA meningkat menjadi IDR146,2 triliun (sekitar USD9,1 miliar), atau 1,9 kali dibandingkan AUM pada awal pendirian. Pertumbuhan tersebut mencerminkan perkembangan portofolio investasi dan kemitraan INA dalam mendukung pembangunan ekonomi Indonesia.
“Lima tahun perjalanan INA mencerminkan bagaimana kepercayaan investor global terhadap Indonesia terus diterjemahkan menjadi investasi jangka panjang di berbagai sektor strategis. Di tengah kompleksitas global, INA tetap berfokus pada tata kelola yang baik, penciptaan nilai jangka panjang, serta praktik investasi yang disiplin,” ujar Oki Ramadhana, Ketua Dewan Direktur Indonesia Investment Authority.
“Ke depan, INA akan terus menjalankan mandatnya dengan memperkuat kemitraan investasi, menghubungkan modal jangka panjang dengan peluang investasi strategis, serta mendukung pembangunan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berkelanjutan.”
Merespons kebutuhan struktural yang terus berkembang dan dinamika investasi global, INA menjalankan strategi investasinya pada 2025 melalui tiga pendekatan utama: pertama, meningkatkan investasi pada lima sektor prioritasnya (transportasi dan logistik; energi hijau; digital dan AI; kesehatan; serta advanced materials); kedua, melanjutkan penyesuaian portofolio menuju kelas aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, termasuk private equity, real estate, dan hybrid capital; dan ketiga, memperluas investasi melalui struktur investasi tidak langsung guna memperluas akses terhadap peluang investasi global serta keahlian dari mitra strategis.
Melalui pendekatan tersebut, investasi diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki relevansi strategis terhadap pertumbuhan jangka panjang Indonesia. Sektor transportasi dan logistik tetap menjadi alokasi sektor kumulatif terbesar INA, yaitu sebesar 44,0%. Bersama para mitra investasinya, INA telah mendukung lebih dari 250 kilometer jalan tol, infrastruktur pelabuhan dan logistik utama, serta sekitar 200.000 meter persegi properti logistik modern.
Sektor digital dan AI mencakup 29,5% dari alokasi kumulatif INA, meliputi menara telekomunikasi, infrastruktur serat optik, dan pusat data hyperscale. Investasi tersebut mencakup salah satu operator menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 40.000 menara di seluruh Indonesia, lebih dari 57.000 kilometer jaringan serat optik, serta platform pusat data hyperscale yang mendukung pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Pada sektor energi hijau, investasi INA turut mendukung pengembangan salah satu portofolio panas bumi terbesar di Indonesia, dengan produksi listrik bersih sekitar 395 GWh per bulan dan kontribusi terhadap pengurangan sekitar 0,3 juta ton emisi setara COâ‚‚ setiap bulannya.
Di sektor kesehatan, INA mendukung jaringan rumah sakit dan platform farmasi ritel terbesar di Indonesia, serta telah berinvestasi pada fasilitas fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara, dengan kapasitas pemrosesan yang diproyeksikan mencapai 600.000 liter per tahun.
Di sektor advanced materials, investasi INA turut mendukung pengembangan salah satu platform produksi katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) terbesar di dunia di luar Tiongkok. Platform tersebut mencapai kapasitas produksi tahunan sebesar 30.000 ton pada 2025, dengan tambahan kapasitas sebesar 110.000 ton dan 120.000 ton yang masing-masing ditargetkan untuk mulai beroperasi pada tahun 2026 dan 2027, guna mendukung peran Indonesia dalam rantai nilai baterai global serta pengembangan industri hilir nasional.
Sejalan dengan berkembangnya peluang investasi di Indonesia, INA juga telah memperoleh komitmen investasi sekitar USD25 miliar dari 40 mitra strategis di 15 negara, termasuk sovereign wealth funds, dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer aset, korporasi strategis, dan firma private equity. Kemitraan ini tidak hanya mendukung mobilisasi modal jangka panjang ke Indonesia, tetapi juga pengembangan platform investasi dan kapabilitas operasional di berbagai sektor yang memiliki peran penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Pada tahun 2025, INA juga mempertahankan peringkat investment grade dari Fitch Ratings, yaitu ‘BBB’ untuk skala internasional dan ‘AAA(idn)’ untuk skala nasional.
Perkembangan institusional juga tercermin dari upaya berkelanjutan INA dalam memperkuat tata kelola dan disiplin manajemen risiko. Berdasarkan penilaian independen oleh Global SWF, INA memperoleh skor Governance, Sustainability, and Resilience (GSR) sebesar 72% pada tahun 2025, melampaui rata-rata sovereign wealth fund global sebesar 53%, yang mencerminkan kemajuan dalam praktik tata kelola, integrasi aspek keberlanjutan, dan ketahanan kelembagaan.










